Flash Fiction: Janji
Seminyak – Bali, Agustus 1991
Sebatang rokok dia berikan padaku. Ratno namanya, tidak tamat SMA dan sepantaran denganku. Kami sama-sama bertugas di jacketing boiler hotel Sheraton. Dia datang dari Nusa Tenggara dengan beban hukum adat dan kewajiban untuk menebus bapaknya dari penjara. Ada tangis empat adik kecil yang mengiringi malam-malamnya. Dia menceritakan semuanya padaku.
ooOOoo
“Kelak, aku ingin datang ke sini lagi, teman. Bukan sebagai kuli boiler, tapi sebagai tamu di kamar paling mewahnya.” Katanya padaku suatu malam. Setelah pada siang harinya dia terperangah pada kemewahan kamar-kamar hotel yang belum di buka untuk umum.
Matanya menerawang ke angkasa, kearah taburan bintang-bintang dan kelamnya rembulan. Kami terbaring di pantai Seminyak mendengarkan alunan kebebasan blues dari pub pinggir pantai. Alunan suara dan kegembiraannya seperti mengejek pada cita-cita Ratno.
Matanya menerawang ke angkasa, kearah taburan bintang-bintang dan kelamnya rembulan. Kami terbaring di pantai Seminyak mendengarkan alunan kebebasan blues dari pub pinggir pantai. Alunan suara dan kegembiraannya seperti mengejek pada cita-cita Ratno.
ooOOoo
Pagi aku bangun dengan tubuh sakit sekali. Aku istirahat dan Ratno menggantikan tugasku. Ini hari penting, percobaan pertama boiler. Ratno bersemangat luar biasa, sementara aku terus terbaring lemah.
Lalu siang harinya datang berita, boiler meledak dan tubuh Ratno setengah terbelah. Dia selamat sebagai onggokan daging setengah koma.
Lalu siang harinya datang berita, boiler meledak dan tubuh Ratno setengah terbelah. Dia selamat sebagai onggokan daging setengah koma.
ooOOoo
Di rumah sakit, Ratno menggenggam tanganku.
“Suatu saat nanti, datanglah sebagai tamu termewah…” Pesannya terbata-bata. Suara terakhir di ujung hidupnya.
Pada Ratno aku bersumpah untuk meneruskan keinginannya.
“Suatu saat nanti, datanglah sebagai tamu termewah…” Pesannya terbata-bata. Suara terakhir di ujung hidupnya.
Pada Ratno aku bersumpah untuk meneruskan keinginannya.
ooOOoo
Seminyak – Bali, Agustus 2009
Aku menulis surat untuk Ratno:
“Maafkan aku, teman. Aku belum bisa laksanakan amanatmu.”
Ada lubang hitam besar di hatiku. Aku lipat suratku, lalu kumasukkan ke dalamnya.
ooOOoo


bro, ini bagus banget. singkat dan bahasanya bagus. well done.
Ali Reza
http://dufix.wordpress.com/
Makasih, mas Reza. Coba membuat cerita dengan batasan amunisi kata…:-)